Blog

Memperkuat Koordinasi Kebijakan Pusat Dan Daerah

Inflasi utama tercatat 3,13 persen (year on year) pada Desember 2018, lebih rendah dari 3,61 persen (yoy) yang diposting pada 2017 dan rata-rata 3,33 persen (yoy) selama tiga tahun terakhir, direktur eksekutif Bank Indonesia (BI) untuk komunikasi Agusman mengatakan dalam sebuah pernyataan di sini pada hari Kamis. Meskipun demikian, BI akan secara konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk mengendalikan inflasi yang rendah dan stabil, yang pada tahun 2019 diprediksi berada dalam koridor target 3,5 + 1 persen.

Setiap tahun, inflasi inti dan volatile food serta tekanan inflasi yang lebih rendah pada harga-harga yang dikelola memberikan kontribusi untuk mengendalikan inflasi CPI pada tahun 2018, katanya. Dia menyatakan bahwa inflasi inti berada pada tingkat rendah 3,07 persen (yoy) sejalan dengan konsistensi kebijakan oleh BI dalam hal menjaga stabilitas nilai tukar dan menjangkar ekspektasi inflasi yang rasional.

Baca juga: rental mobil bali lepas kunci.

Tekanan harga pada volatile food (VF) tercatat 3,39 persen (yoy), dikurangi oleh pasokan makanan yang stabil dan penurunan harga makanan internasional. Selain itu, tekanan inflasi pada harga administered (AP) rendah di 3,36 persen (yoy) sesuai dengan keengganan pemerintah untuk menyesuaikan harga.

Secara bulanan, inflasi CPI dikendalikan pada Desember 2018 sejalan dengan tren musiman. Inflasi utama berdiri di 0,62 persen (mtm) pada Desember 2018, meningkat dari 0,27 persen (mtm) pada bulan sebelumnya karena lonjakan permintaan di akhir tahun.

Makanan volatil mengalami inflasi 1,55 persen (mtm), naik dari 0,23 persen (mtm) bulan sebelumnya, dipicu oleh kenaikan harga daging ayam dan telur murni, bawang merah, dan ikan segar. Di sisi lain, tekanan inflasi pada harga-harga yang diatur naik dari 0,52 persen (mtm) menjadi 1,20 persen (yoy) pada periode pelaporan, naik tipis oleh harga tiket pesawat, tarif kereta api, dan tarif transportasi antar kota.

Sebaliknya, inflasi inti tercatat sebesar 0,17 persen (yoy), turun dari 0,22 persen (mtm) pada periode sebelumnya. Kontributor utama inflasi inti adalah air botolan, beras dengan lauk, sewa rumah, dan batang baja penguat. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 dapat mencapai 5,15 persen, jauh dari target 5,4 persen yang ditetapkan dalam anggaran negara.

Momentum pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan dengan baik meskipun terjadi penurunan (global). Kami memperkirakan akan mencapai 5,15 persen setelah direvisi turun dari 5,17 persen, katanya di sini, Rabu. Perkiraan pertumbuhan ekonomi 5,15 persen adalah pencapaian yang baik di tengah ketidakpastian global, tambahnya. Menteri mencatat bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah tetap menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Kinerja ekspor dan impor masih terbatas seiring dengan tren penurunan perdagangan global karena meningkatnya tekanan perang perdagangan, katanya. Kami melihat bahwa respons terhadap kebijakan (pemerintah) pada 2018 dirasakan pada kuartal terakhir. Namun, ketidakpastian global mempengaruhi permintaan, sehingga direvisi ke bawah, katanya.

Pertumbuhan ekonomi 2018 memiliki dampak langsung pada penciptaan peluang kerja dan pengurangan tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan, dan kesenjangan ekonomi, katanya. Tingkat pengangguran berdiri di 5,34 persen pada Agustus 2018, sementara tingkat kemiskinan tercatat 9,82 persen dan koefisien gini pada 0,389 pada Maret 2018.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang sehat, secara umum, kesejahteraan masyarakat terus meningkat, katanya. Berdasarkan data sementara, tingkat inflasi berdiri di 3,13 persen, suku bunga tagihan treasury untuk deposito tiga bulan mencapai 4,95 persen, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat di Rp14.247 tahun ini, katanya.